Program Kerja Pondok Pesantren Al-Mufiddiyah


·         PROGRAM Pondok Pesantren :

1.  TAHFIDZUL QURAN

Program ini merupakan program unggulan yang ada di Pondok Pesantren PULE Al-Mufiddiyah, Kepanjen, Menayu, Muntilan. Sehingga dihasilkan generasi / santri yang mampu mengkaji Al-Quran luar dalam baik dari sisi esoteris maupun eksoteris. Dan kelak di masyarakat nanti dapat mewujudkan atau mengimplementasikan hasil ilmunya yang didapat itu untuk mewujudkan masyarakat madani atau masyarakat qur'ani. Cara hidup dan berkeluarga menurut sunah Rossul, cara bersosial, bernegara menurut ajaran Islam, dan melakukan ibadah baik ibadah ritual maupun ibadah sosial menurut ajaran agama, serta senantiasa menyebarkan paham cinta kasih pada sesama seperti yang diajarkan Al-Qur'an dan hadist, serta para ulama yang shalih.

2.  MENGAJI KITAB

Kitab-kitab kuning merupakan cara ulama yang dhabit dalam memahami ayat, sehingga setiap firman Tuhan dan hadist dapat terjelaskan secara terperinci serta dengan anjuran atau tata cara pelaksanaannya. 
Kitab dasar yang diajarkan yaitu :
1. Kitab Al-Ajurumiyah Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri yang menginginkan belajar kitab kuning wajib belajar dan memahami kitab ini terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa membaca kitab kuning tanpa belajar kitab Jurumiyah, ppedoman dasar dalam ilmu nahwu. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami. ADVERTISEMENT 2. Kitab Amtsilah At-Tashrifiyah Jika nahwu adalah bapaknya, maka shorof ibunya. Begitulah hubungan kesinambungan antara dua jenis ilmu itu. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya dalam mempelajari kitab kuning. Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah. 3. Kitab Mushtholah Al-hadits Kitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits. Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu. 4. Kitab Arba’in Nawawi Pada kitab yang telah disebutkan di atas merupakan kitab dasar dalam menspesifikasikan kedudukan hadits. Berbeda lagi dengan kitab matan hadits yang harus dipelajari di dunia pesantren, yaitu Kitab Arba’in Nawawi karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab antara lain Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar, Minhajut Tholibin, Syarh Muslim, dan lain-lain. Muatan tema yang dihimpun dalam kitab ini meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak 5. Kitab At-Taqrib ADVERTISEMENT Fiqh merupakan hasil turunan dari Al-Quran dan Al-Hadist setelah melalui berbagai paduan dalam ushul fiqh. Kitab Taqrib yang dikarang oleh Al-Qodhi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy adalah kitab fiqh yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fiqh. Di atas Kitab Taqrib ada Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu’in, dan semuanya itu syarah atau penjelasan dari At-Taqrib. 6. Kitab Aqidatul Awam Hal mendasar dalam agama adalah kepercayaan atau aqidah. Apabila aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah ditentukan. Kitab dasar aqidah yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom. Kitab ini dikarang atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melalui mimpinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab tersebut sebagai acuan sumber literasi ilmu Aqidah di berbagai tempat. 7. Kitab Ta’limul Muta’alim Sepandai apapun manusia serta sebanyak apapun ilmu yang dikuasainya, semuanya tidak akan bisa menghasilkan sarinya ilmu tanpa adanya akhlaq. Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Setiap awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta’limul Muta’alim, seperti kitab Adabul ‘alim wal Muta’alim karangan ulama’ besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kedua kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/57685/7-kitab-dasar-yang-diajarkan-di-pesantren
 a. Kitab Al-Jurumiyah
b. Kitab Amsilah At-tasrifiyah
c. Arba'in Nawawi
d. Kitab At-taqrib
e. Kitab Aqidatul Awam
f. Kitab Ta'limul Muta'alim 
g. Dll....
1. Kitab Al-Ajurumiyah Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri yang menginginkan belajar kitab kuning wajib belajar dan memahami kitab ini terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa membaca kitab kuning tanpa belajar kitab Jurumiyah, ppedoman dasar dalam ilmu nahwu. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami. ADVERTISEMENT 2. Kitab Amtsilah At-Tashrifiyah Jika nahwu adalah bapaknya, maka shorof ibunya. Begitulah hubungan kesinambungan antara dua jenis ilmu itu. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya dalam mempelajari kitab kuning. Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah. 3. Kitab Mushtholah Al-hadits Kitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits. Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu. 4. Kitab Arba’in Nawawi Pada kitab yang telah disebutkan di atas merupakan kitab dasar dalam menspesifikasikan kedudukan hadits. Berbeda lagi dengan kitab matan hadits yang harus dipelajari di dunia pesantren, yaitu Kitab Arba’in Nawawi karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab antara lain Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar, Minhajut Tholibin, Syarh Muslim, dan lain-lain. Muatan tema yang dihimpun dalam kitab ini meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak 5. Kitab At-Taqrib ADVERTISEMENT Fiqh merupakan hasil turunan dari Al-Quran dan Al-Hadist setelah melalui berbagai paduan dalam ushul fiqh. Kitab Taqrib yang dikarang oleh Al-Qodhi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy adalah kitab fiqh yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fiqh. Di atas Kitab Taqrib ada Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu’in, dan semuanya itu syarah atau penjelasan dari At-Taqrib. 6. Kitab Aqidatul Awam Hal mendasar dalam agama adalah kepercayaan atau aqidah. Apabila aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah ditentukan. Kitab dasar aqidah yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom. Kitab ini dikarang atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melalui mimpinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab tersebut sebagai acuan sumber literasi ilmu Aqidah di berbagai tempat. 7. Kitab Ta’limul Muta’alim Sepandai apapun manusia serta sebanyak apapun ilmu yang dikuasainya, semuanya tidak akan bisa menghasilkan sarinya ilmu tanpa adanya akhlaq. Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Setiap awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta’limul Muta’alim, seperti kitab Adabul ‘alim wal Muta’alim karangan ulama’ besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kedua kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/57685/7-kitab-dasar-yang-diajarkan-di-pesantren
1. Kitab Al-Ajurumiyah Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri yang menginginkan belajar kitab kuning wajib belajar dan memahami kitab ini terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa membaca kitab kuning tanpa belajar kitab Jurumiyah, ppedoman dasar dalam ilmu nahwu. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami. ADVERTISEMENT 2. Kitab Amtsilah At-Tashrifiyah Jika nahwu adalah bapaknya, maka shorof ibunya. Begitulah hubungan kesinambungan antara dua jenis ilmu itu. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya dalam mempelajari kitab kuning. Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah. 3. Kitab Mushtholah Al-hadits Kitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits. Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu. 4. Kitab Arba’in Nawawi Pada kitab yang telah disebutkan di atas merupakan kitab dasar dalam menspesifikasikan kedudukan hadits. Berbeda lagi dengan kitab matan hadits yang harus dipelajari di dunia pesantren, yaitu Kitab Arba’in Nawawi karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab antara lain Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar, Minhajut Tholibin, Syarh Muslim, dan lain-lain. Muatan tema yang dihimpun dalam kitab ini meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak 5. Kitab At-Taqrib ADVERTISEMENT Fiqh merupakan hasil turunan dari Al-Quran dan Al-Hadist setelah melalui berbagai paduan dalam ushul fiqh. Kitab Taqrib yang dikarang oleh Al-Qodhi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy adalah kitab fiqh yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fiqh. Di atas Kitab Taqrib ada Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu’in, dan semuanya itu syarah atau penjelasan dari At-Taqrib. 6. Kitab Aqidatul Awam Hal mendasar dalam agama adalah kepercayaan atau aqidah. Apabila aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah ditentukan. Kitab dasar aqidah yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom. Kitab ini dikarang atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melalui mimpinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab tersebut sebagai acuan sumber literasi ilmu Aqidah di berbagai tempat. 7. Kitab Ta’limul Muta’alim Sepandai apapun manusia serta sebanyak apapun ilmu yang dikuasainya, semuanya tidak akan bisa menghasilkan sarinya ilmu tanpa adanya akhlaq. Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Setiap awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta’limul Muta’alim, seperti kitab Adabul ‘alim wal Muta’alim karangan ulama’ besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kedua kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/57685/7-kitab-dasar-yang-diajarkan-di-pesantren

3.  GADAY (Galeri Doa Bersama Anak Yatim)

Pondok pesantren PULE Al-Mufiddiyah sangat peduli dengan adik-adik yatim piatu dan kaum mustadhafin (kaum lemah, fakir miskin). Saat ini kami setiap bulannya rutin mengadakan santunan dan doa bersama anak yatim piatu. 
Kegiatan ini sudah berlangsung selama 4 kali. Kami turut mengundang beberapa elemen masyarakat seperti :
a.  para stake holder (pemangku jabatan setempat, Pak Kadus, Pak Lurah, 
b. organisasi masyarakat setempat seperti NU, Muhammadiyah, LAZIZ, sekolah, guru, HIMPAUDI, dll
c. Yayasan Sosial seperti Lembaga Donatur, bagi nasi Magelang, Yayasan Yatim Mandiri kantor Magelang, BAZNAS, dll
d. Perseorangan seperti pebisnis maupun masyarakat pada umumnya yang banyak membantu kelancaran acara
e. Para donatur.

Semoga semuanya diliputi keberkahan dan ridho Alloh SWT. Ke depan, besar harapan kami bisa memberikan Beasiswa bagi anak yatim piatu sehingga mereka tetap bisa sekolah, tidak putus sekolah, dan semangat untuk mengejar cita-citanya sampai berhasil. Menjadi orang besar negeri ini, menjadi penghafal alqur'an, para mujahid yang berjuang untuk negeri ini di segala bidang dan profesi, bisa membanggakan orang tuanya dan membawa orang tua menuju jannahNYA.

4.  KOPERASI

 Kami ingin Pondok Pesantren PULE Al-Mufiddiyah bisa berdiri dan hidup secara MANDIRI. Oleh karena itu pentingnya Unit Usaha yang mampu menghidupi keseharian pondok pesantren. Disamping itu, kami tidak mengecilkan kontribusi dari Para Donatur yang baik hatinya. 
Langkah ini diambil untuk melatih anak-anak kami, santri-santri kami untuk belajar mandiri dalam membangun segala sesuatu, membangun usaha, unit organisasi, maupun yayasan nonprofit agar mereka menjadi para pemimpin yang peduli dan berhasil.
Unit Usaha itu berbadan koperasi, yaitu dari dana bersama kemudian dikelola menjadi unit usaha-usaha dan kemudian hasilnya nanti dibagi bersama menurut keputusan yang disepakati. Unit Usaha itu bisa dibidang Kuliner, Agrokultural, Pertanian dan Budidaya, Perdagangan, Seni Kriya, Produk Digital, maupun unit usaha lainnya. Sehingga, selain modalnya berawal dari kebersamaan dan patungan. Hasil yang didapatpun berkah dan mendatangkan sejuta manfaat dan kebahagiaan.

5. Keterampilan Pertanian dan Budidaya

Kami bangga dan cinta hidup dan tinggal di Negara Agraris. Kebanggaan dan Kekayaan Alam itu harus dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Kelak jika santriwan -santriwati udah lulus dan pulang ke kampung halamannya, mereka harus berhasil membangun kampung halamannya, mencari potensi apa yang bisa dikembangkan di kampung halamannya, serta terbiasa bekerjasama dengan elemen-elemen masyarakat yang berbeda dari setiap lapisan kehidupan. 
Hal itu untuk mewujudkan cita-cita yang luhur dn menyejahterakan sekitarnya, dimulai dari menyejahterakan keluarga, dan masyarakat terpinggirkan di sekitar tempat tinggalnya. Sehingga tidak ada lagi korban sosial dari perkembangan zaman modernisme.

6. Lembaga Pendidikan

Kami Pondok Pesantren PULE Al-Mufiddiyah tetap memegang teguh dan menjaga prinsip tradisionalitas, berpedoman penuh pada teks-teks agama, dan mencintai budaya tradisional yang lurus, baik dari sisi hakikat - syariat - maupun ma'rifat.
Kami sangat mencintai TRADISIONALITAS dan KELUHURAN.
Namun kami menggunakan MODERNITAS hanya sebagai cara atau metode untuk berdakwah dan menyebarluaskan pesan-pesan Nabi Muhammad S.A.W. Sehingga media digital menjadi ramah untuk dipijaki dan aman bagi edukasi anak-anak kita. 
Oleh karena itu, ke depannya kami juga berkeinginan mendirikan Lembaga Pendidikan yang tanggap isu-isu keumatan, baik dari kurikulum serta bentuk atau jenis pendidikannya. Sampai saat ini masih didiskusikan apakah bentuknya seperti Sekolah negeri/swasta pada umumnya, atau kampus, atau bebentuk islamic center, atau cukup fokus dan khusus pada lembaga pelatihan dan keterampilan saja.

Kami masih dalam tahap mematangkan, karena terlalu dini untuk memutuskan.


DOA, DUKUNGAN, dan KERJASAMA sangat kami harapkan dari semua pihak tanpa memedulikan dari organisasi apa, selama untuk tujuan kemaslahatan umat dan untuk membantu mengangkat kaum yang tertinggal, kami sangat mengharapkan. 
Sehingga gerakan dan semangat berdakwah ini semakin luas dan manfaatnya dapat menjangkau semua kalangan.

 


ALLOHUMMA 'SHOLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD....

Komentar

Relate Post

Ponpes PULE mendapat kunjungan dari Jombang

PANITIA Pembangunan Yayasan Pondok Pesantren

DOA BERSAMA ANAK YATIM PIATU

Visi Misi Pondok Pesantren PULE Al-Mufiddiyah

Sejarah Pendirian Ponpes PULE Al-Mufiddiyah